Beranda Cerpen Abi

Abi

BERBAGI

Oleh Ferdian A. Majni

(Ilustrasi)

Senja perlahan pergi menyusuri malam, pertanda Abi harus segera mengakhiri raja sehari bersama sang ratu. Hari itu adalah cerita bahagia bagi pasangan muda yang baru saja menyelesaikan hajat kecil di kaki gunung seulawah, sebuah pesta yang hanya dihadiri beberapa kerabat dekat kedua mempelai, itupun dilaksanakan di sebuah surau tua. Abi harus segera kembali ke perut hutan, di mana rekan seperjuangannya telah menunggu di sana. Abi adalah seorang pemberontak yang berpangkat panglima.

Suasana haru mengiringi kepergian Abi. Tak terkecuali gadis yang berkerudung putih. Umi tak sanggup menahan kesedihan itu. Airmata tak terasa terus membanjiri wajah cantiknya. Betapa tidak, Abi yang baru saja menjadi suaminya, harus pergi secepat itu. Umi berlari kecil menghampiri Abi, memeluk erat dan menumpahkan sejuta airmata dalam pelukannya. Ada gurat tak rela di sana. Abi mencoba bersikap tegar, seraya berujar, “Jangan bersedih, aku akan kembali untukmu.” Satu kecupan mendarat di kening gadis itu. Umi menahan tangis dan mencium tangan kasar suaminya itu. Abi berpaling melangkah meninggalkan surau, diikuti beberapa orang berbadan tegap yang sejak tadi mengawasi keamanan desa itu.

Iklan Souvenir DETaK

Tak ada malam pertama. Abi di belantara tak bisa memejamkan mata, padahal purnama tepat di ubun-ubunnya. Bayangan Umi terus merindukannya. Andai dia punya sayap, ingin rasanya terbang sejenak. Berbaring seranjang bersama Umi, pikirnya. Hanya Abi seorang yang masih terjaga di gubuk berlapis rumbia itu. Semua telah lelap dalam buaian mimpi. Abi merebahkan tubuhnya di atas anyaman daun kelapa, sebelum akhinya bangkit kembali. Di sudut sana tiga pemberontak masih bercengkraman, bercerita sembari mengawasi keadaan di sekitar. Mereka bertugas malam ini.
Di sudut desa, lampu yang berisi minyak tanah itu baru saja padam. Asap kecil masih menggantung di langit kamar. Umi beranjak tidur tapi matanya seakan tidak bersahabat. Gadis itu juga merindukan suaminya. Ia memeluk erat guling kesayangannya, tersedu-sedu mencoba menahan tangisan rindu. Umi takut terjadi sesuatu pada suaminya.

Sepekan yang lalu, perang terjadi di kampung tetangga. Aparat berhasil melumpuhkan pemberontak. Hanya sedikit yang selamat dari perang itu, diantaranya adalah Abi, suaminya. Belasan wanita menjadi janda. Walau duka masih terasa, namun itu adalah perjuangan. Yang mati dianggap syahid, begitu pendapat mereka yang terlibat dalam pemberontakan.
Menjelang azan berkumandang, jangkrik masih terdengar bernyanyi, suasana gaduh binatang malam masih basah di telinga. Umi masih terbujur dalam pelukan selimut. Ia tak sadar kalau tubuhnya sudah terlelap. Sedangkan Abi masih terjaga, menemani tiga temannya yang bertugas di pos siaga. Walau kesedihan tak lagi tersirat di wajahnya, ia mencoba tersenyum. Seakan kebahagiaan itu utuh menyembunyikan luka kecilnya.
“Allaahu Akbar……”

 

“Allaahu Akbar…….”
Suara azan pecahkan kesunyian desa yang sedang dilanda konflik itu. Hanya beberapa orang yang berani beranjak ke surau. Mereka takut bila harus terperangkap dalam perang. Seperti beberapa hari lalu, aparat sering beroperasi di malam hari hingga pagi menjelang, sering pula mereka jadi sasaran salah tembak pihak yang bertikai. Umi terbangun dan bergegas ke sumur, berwudhu’ dan melaksanakan sholat. Di belantara hutan, Abi juga menjadi imam salat subuh berjama’ah bagi rekannya.

Sebulan kemudian, pemberontak terus berpindah-pindah tempat. Perang tak pernah usai, konflik semakin parah. Gerak pemberontak semakin dipersempit. Penambahan aparat terus dipasok dari ibukota. Wilayah itu dalam status darurat militer. Terlebih desa itu yang terkenal dengan produksi pemberontak terbanyak. Apalagi setelah penghadangan terhadap blokade iringan truk aparat yang menewaskan banyak prajurit. Pemerintah murka. Desa itu digarisi warna merah, sebagai zona bahaya pemberontak. Setelah kejadian itu, Abi mulai terkenal di setiap pos aparat militer. Abi bak seorang Osama bin Laden yang terus diburu militer Amerika. Mungkin di sini ada Abi yang terus diburu aparat pemerintah.
Seperti biasa, setiap siang dan malam Umi muda ini menjadi guru ngaji di desanya. Ia lulusan sebuah dayah salafiah. Di balik kesehariannya itu, Umi sangat merindukan Abi. Setiap saat bada sholat ia selalu mendoakan keselamatan Abi. Setelah menjadi istrinya, Umi tak pernah lagi bertemu Abi. Mungkin setiap perperangan Abi selalu terlibat. Tak pelak, setiap malam ia selalu didatangi aparat, menanyakan perihal keberadaan suaminya. Umi tak pernah menjawab karena memang dia tak mengetahui di mana suaminya. Namun tak sedikit perlakuan kasar diterimanya.

Suatu malam, beberapa menit setelah azan isya dikumandangkan. Kala itu, Umi baru saja menyelesaikan salam tahiyat akhirnya, terdengar ketukan pintu. Begitu pelan. “Umi..Umi,…” Panggil seseorang di balik pintu. Umi tak langsung bangkit, ia merapatkan telinganya ke sumber suara itu. “Umi…..” panggilan ketiga ini membuat hatinya tersentak. Matanya berbinar, seakan kebun bunga tumbuh di sana. “Abi…” bisik Umi, memastikan suara itu. “Iyaa…” Abi membalas. Umi membukakan pintu untuk pangeran hatinya itu dengan sebingkai senyum rindu. Malam itu, Mereka larut dalam cinta.

 
Tak terasa begitu cepat berlalu. Dua hari Abi sudah menyiram kebun rindunya bersama Umi, setelah begitu lama dilanda kemarau panjang. Alhamdulillah, dua harinya berlangsung aman. Walau harus tetap berkomunikasi ke hutan, sepucuk pistol dan handie-talkie selalu dalam jangkuannya. Sebenarnya ia ditugaskan turun gunung untuk operasi peralihan, selama tiga hari. Namun hari ini dengan terpaksa Abi harus kembali naik gunung. keberadaannya di rumah telah diendus oleh aparat.

 
Jum’at, menjelang azan subuh.
“Ash shalaatu khairun minan naaum….”
“Ash shalaatu khairun minan naaum….”
“Allahu’ akbar….”
“Allahu’ akbar….”
“Laa illaha illah…”

 
Setelah menjadi imam untuk sholat subuh berjamaah dengan keluarga dan istri tercintanya, Abi berpamitan. Ia kembali bergabung ke hutan. Umi mengantar kepergian Abi lewat pintu belakang. Abi melangkah pergi. Tak seperti biasanya, Umi berharap Abi berpaling dan tersenyum padanya.

 
Beberapa menit kemudian, Abi telah hilang di sebalik semak hutan kecil. Umi menutup pintu, berniat menbaca al-qur’an. Tiba-tiba gemuruh letusan senjata bersahutan. Suaranya begitu keras. seakan-akan di pekarangan rumahnya, perang itu dimainkan.

 
” Ya Allah, lindungilah suamiku….Laa ilaaha anta…Subhan
aka inni kuntu minadzdzaalimiin…” jerit Umi dalam hati, ia menepis prasangka buruknya.

 

***

Matahari mulai menyapa bumi. Pancaran hangatnya menyentuh pucuk-pucuk dedaunan. Umi merasakan perutnya berubah. Ada sedikit gerakan di sana, seperti tendangan kaki kecil. Umi hamil, usianya menjelang lima bulan. Berita bahagia yang belum diketahui Abi. Mungkin hari ini Abi akan pulang. “Dia pasti senang, mendengar berita bahagia ini” batin Umi, merapatkan bibir tipisnya.

 
Sore yang masih tersedu, aparat menghadang Abi berserta rekan-rekannya ketika memasuki hutan. Belasan pemberontak tewas. Jasad mereka ditemukan warga dan dikebumikan oleh keluarganya. Namun tidak dengan Abi. Tak ada yang mengetahui keberadaannya, Abi adalah si musuh besar pemerintah. Aparat membawanya serta.[]

Ferdian A Majni, Bergiat di Komunitas Menulis Jeuneurob dan Mahasiswa Teknik Elektro Unsyiah.